Nikah? Mau Seperti Apa? - Tagebuch Gestalten

Thursday, April 2, 2020

Nikah? Mau Seperti Apa?

Well, sekarang tanggal 2 April 2020 jam 10.39 PM. Aku sedang berbaring untuk tidur disamping anak pertamaku yang baru aku lahirkan bulan Maret kemarin. Suamiku sedang tidak bersama kami. Kita sedang LDM alias Long Distance Marriage. Yap, suamiku sedang ada di kota perantauan yang sangat jauh dari kami. 

Nah malam ini untuk mengisi ke gabut-an ku karena aku belum mengantuk dan di tengah pandemi covid-19 yang disarankan untuk tidak keluar rumah, so aku pengen menceritakan pengalamanku dalam persiapan menikah. Ini aku tulis untuk kalian semua yang bertanya bagaimana khususnya biaya untuk menikah, tapi tentu dengan versi aku ya gengs.


Jadi teman-teman, untuk acara pernikahan cuma dilakukan satu kali ya, di rumahku acara akad maupun resepsinya. Untuk biaya menikah itu dari biaya orang tuaku, aku, dan juga suamiku yang waktu itu masih calon.  

Kita ingin pernikahan yang sangat  simpel dan sederhana. Tapi beda cerita jika sudah ada campur tangan keluarga khususnya orang tua. Jika dihitung orang tuaku lebih banyak mengeluarkan uang. Tapi orang tuaku punya alasan, mereka bilang bahwa yang menikahkan anak adalah hajat orang tua bukan hajat anak, dan alasan keduanya bahwa tamu yang datang lebih banyak tamu dari orang tua, bukan anak. Jadi orang tuaku tetap kukuh untuk membiayai sebagian besar acara nikahanku saat itu. 

Untuk orang tuaku membiayai masalah katering, tenda, dan juga bingkisan undangan. Sedangkan aku ikut membantu membayar cetak undangan, photobooth dan rias, dekor, dan foto (dalam satu paket). Sedangkan calon suamiku saat itu membantu membayar pembelian souvenir dan memberikan sejumlah uang untuk orang tuaku yang tentu aku gak tau jumlahnya dan yang pegang langsung orang tua ku.

Saat pernikahan ku memang terbilang tidak begitu mahal. Karena aku dan calon suamiku sendiri memang ingin pernikahan yang sederhana tapi tetap menghargai para tamu. Kami memang sepakat untuk menekan biaya menikah kami karena kami saat itu memikirkan kehidupan setelah kami menikah nanti.

Yang pada akhirnya hal-hal dalam pernikahan yang tidak begitu utama kami hilangkan. Seperti foto pra wedding dan acara-acara adat. Pernikahan kita terfokus bagaimana bisa menyambut tamu dengan baik. Jadi kita lebih fokus ke menu makanan yang di sajikan. Kami sekeluarga ingin semua makanan yang disajikan memang rasanya enak supaya tamu-tamu suka dengan sajian di acara kami.

Segala biaya yang tidak perlu benar-benar kita singkirkan. Yaa walaupun terkadang ada rasa hmm pengen juga punya foto pra wedding, tapi demi kehidupan setelah menikah kami harus sabar akan hal itu.

Dan benar adanya, dikehidupan setelah menikah kita benar-benar tidak memberatkan orang tua kita masing-masing. Setelah menikah kita mampu bertumpu sendiri untuk keluarga baru kita. Khususnya dalam segi ekonomi. Untuk makan, sewa rumah, dan kebutuhan kita, benar-benar kita sendiri yang mencukupi. Sampai biaya pindahan-pindahan yang cukup banyak karena aku harus pindah mengikuti suamiku yang bekerja di luar pulau pun dari kita sendiri. 

Kita benar-benar memulai keluarga baru ini dari kaki kita sendiri. Kalau di pikir ulang, kita bisa sampai punya cukup tabungan untuk menikah juga karena dari sebelum menikah kita berdua komitmen untuk menabung untuk pernikahan dan untuk kehidupan setelah menikah.

Banyak teman-teman berpikir kok bisa. Itu semua bisa dilakukan siapa saja. Asal ada kemauan. Kita mengumpulkan uang untuk juga tidak mudah. Kita harus benar-benar berhemat. Menahan untuk tidak membeli apa-apa yang tidak penting. Tentu tidak mungkin saat itu kita gak pernah buat istilahnya menghamburkan uang, tentu pernah. Tapi tidak sesering orang-orang pada umumnya.

Itu pengalaman ku dalam mempersiapkan pernikahan. Karena aku dan calon suamiku bukan anak sultan yang bisa bikin acara pernikahan megah dan kehidupan setelah menikah terjamin, jadi kita benar-benar mempersiapkan segalanya sampai untuk kehidupan setelah menikah. Karena kami sadar bahwa biaya menikah yang sudah dikeluarkan keluarga untuk kita sudah sangat banyak. Maka kita lebih berfikir gimana cara supaya kehidupan setelah menikah tidak memberatkan orang tua maupun keluarga masing-masing. Dan begitulah cara kita, menyingkirkan segala gaya kekinian yang tidak perlu, dan fokus pada hal-hal yang memang penting. 

So, aku harap ada pelajaran dari apa yang aku tulis ini ya guys. Semoga bermanfaat. Silahkan dicoba untuk kalian-kalian yang sepemikiran denganku mengenai konsep nikah dan kehidupan setelah menikah.

No comments:

Post a Comment