Stress dimulai ketika cuti suamiku mulai habis. Banyak yang ada dipikiranku. Awalnya begitu khawatir karena suamiku harus pulang kenkota rantau dengan jarak yang begitu jauh di tengah pandemi virus covid-19 (corona) yang sedang menyebar. Semua orang dihimbau untuk berada di rumah dan melakukan social distanding. Tapi suamiku harus melakukan perjalanan jauh yang juga harus melakukan kontak dengan banyak orang asing. Segala persiapan untuk kebersihan aku siapkan untuknya.
Setelah selesai aku bantu packing suamiku untuk pulang merantau lagi, makinlah terasa dan timbul dipikiran 'siapa yang akan support aku disini? Sedangkan aku kondisi masih dalam pemulihan selesai operasi cesar. Ibuku sudah meninggal setahun lalu, dan bapakku baru saja kena stroke. Kakak pertamaku, mengurus bapak, sedangkan kakak kedua ku juga lagi punya bayi kecil. Aku mampu gak yaa jaga in adek yang baru usia 1 mingguan ini?' Tangisan-tangisan yang sedari awal aku sembunyikan dari suamiku mulai tak bisa ku bendung lagi. Aku menangis, suamiku berusaha menenangkan aku. Mungkin dia pikir aku hanya menangisi kepulangannya ke perantauan saja, tapi bukan hanya itu sebenarnya. Banyak kecemasan-kecemasan yang aku pikirkan juga.
Hari awal-awal kepulangan suamiku terasa mudah, karena sodara-sodaraku berusaha membantuku sebisa mereka. Dan aku benar-benar berterima kasih karena itu. Meski gak semudah itu, karena diam-diam aku terkadang masih menangis sendiri. Kusembunyikan rapat-rapat tangisanku dari orang sekitarku, termasuk suamiku yang sering sekali vcall sesampainya di kota rantau. Aku hanya takut suamiku khawatir karena melihat tangisanku. Ketika sudah susah ku bendung, langsung aku arahkan handphone ku ke anak kita.
Dan benarlah, khawatirku terjadi. Cobaan jadi single mother sementara ini mendapat ujian. Anakku yang baru berusia 2 minggu sakit flu dan batuk. Dan anakku terlihat begitu sakit ketika batuk. Usia segitu, jelas tidak boleh minum obat. Yang bisa aku beri hanya ASI, ASI, dan ASI. Hampir setiap malam, setiap jam merengek minta minum. Waktu tidurku sangat berkurang drastis. Muka lesuku mulai terlihat, seakan tak punya semangat. Padahal aku hanya kurang istirahat. Karena malam aku harus berjaga untuk anakku, dan siang aku harus melakukan kegiatan semestinya seperti mencuci baju dan popok anakku. Aku bersyukur, sodara-sodaraku selalu menyediakan makanan untukku makan.
Saat malam, sendiri saat aku menjaga anakku, aku terkadang menangis melihat anakku yang masih mungil harus merasakan batuk dan flu yang seperti itu. Gak tau lagi harus bercerita pada siapa. Strees ku bertambah ketika suamiku vcall dan mulai jarang keangkat olehku. Karena semua kebutuhan anakku emang aku sendiri, jadi terkadang telfon dari suamiku pun terlewatkan. Dan waktu malam itu, sudah mulai lelah sangat, suamiku vcall dengan kondisi aku yang sangat lesu. Dia pikir aku ada masalah, karena ketika telfon aku hanya diam saja. Dan ku bilang aku hanya kelelahan tapi dia tak percaya itu. Akhirnya dia marah kepadaku, dan setelah hari itu gak pernah telfon lagi. Jangankan telfon, untuk sekedar chat saja enggak. And I fell like I lose my support system. Seketika aku merasa sedih, aku yang sedang sangat butuh sekali yang namanya support, aku harus kehilangan hanya karena masalah sepele. Aku ingin marah-marah tapi entah pada siapa, karena kita orang tua kekanak-kanakan.
Sejak itu, aku seperti merasa seakan-akan aku habis melahirkan dan ditinggal begitu saja oleh suamiku. Bahkan dia tanya kondisi anak pun enggak. Entah dia sibuk apa aku gak tau, dan gak pengen tau. Biar aku gak terlalu banyak pikiran. Ingin ku coba memperbaiki hubungan dengan suamiku, tapi aku sendiri disini juga sedang perang batin melihat anakku yang sedang sakit. Hampir setiap hari aku menangis melihat anakku. Aku hanya berharap suamiku bisa lebih dewasa lagi menyikapi perubahan sebelum dan setelah memiliki anak.
Disini aku coba menyemangati diri sendiri. Karena aku hampir kehilangan kepercayaan diriku sebagai ibu. Aku menyalahkan diriku karena anakku seperti ini. Ketika malam si kecil gak bisa tidur, aku pernah sempat memarahinya karena dia merengek terus. Coba bayangkan anak usia 2 minggu aku marahi. Bukankah aku benar-benar ibu yang sedang stress? Aku hanya butuh support, dan sekarang diriku lah yang bisa support. Karena my support system (suamiku) sudah diam untukku dan bayiku.
Dan sudah 2 hari lamanya kita tak melakukan kontak yang biasanya kita lakukan. Bahkan sekedar menanyakan kabar anak pun tidak. Perasaanku makin gak karuan. Aku menangis sampai mata ini sudah tidak bisa menyembunyikan bekasnya lagi. Sodara-sodaraku tau aku menangis, tapi mereka hanya pura-pura tak tau. Mereka hanya terlihat iba padaku. Mereka tak berani menanyakan apa-apa yang ada di kepala dan perasaanku.
Sampai akhirnya ada vcall dari suamiku yang tak terangkat. Karena aku emang sedang sibuk ngurus anak dan kebutuhan kita sehari-hari. Aku balas vcall nya dengan chat, dan ku katakan maaf karena aku baru saja selesai mencuci baju. Sedikit sumringah aku melihat notifikasi vcall itu. Aku berharap semuanya segera membaik. Aku hanya kecewa aku gak bisa mengangkat vcall itu.
Tak selang waktu lama, handphone berdering. Aku lihat telfon dari suamiku. Tapi bukan vcall, telfon suara biasa. Aku terheran, kenapa? Biasanya pakai vcall. Apa masih bermasalahkah kita? Aku angkat telfon itu dengan sedikit ragu. Dan benar adanya, suamiku masih marah kepadaku. Dia hanya berbicara pendek-pendek dan hanya menanyakan kondisi anak kita. Dan aku berusaha mencairkan dengan bertanya, mengapa tidak telfon memakai vcall seperti biasa? Dan pertanyaanku gak ada jawaban. Setelah puas menanyakan kondisi anak, tibalah suamiku memarahi aku dan menyebut bahwa aku sudah tidak pernah menanyakan bagaimana kabarnya lagi.
Aku tau, suamiku masih marah karena hal kemarin. Tapi dia kini datang marah lagi dengan membawa topik lain. Aku yang berharap semuanya membaik dan ternyata tidak, hanya dapat mendengar kemarahan suamiku yang aku pikir tak beralasan sama sekali. Aku yang sedari kemarin berusaha menutupi rasa lelah dan sedih ini sudah tak bisa terbendung. Dalam kemarahan suamiku tangisku tumpah. Mungkin dia mendengar beberapa detik tangisanku, hingga aku tutup telfonnya karena aku sudah gak sanggup lagi menahan tangis ku. Aku menangis karena aku kecewa sekali, aku berharap dia akan kembali dengan membuat lebih tenang dan lebih kuat lagi ternyata tidak. Dia datang untuk lebih meremukkan mental ini.
Sampai akhirnya aku sadari, sudah cukup aku menangis. Aku harus jadi ibu yang kuat untuk anakku. Aku harus bangkit untuk anakku, untuk keluargaku. Aku tau kemarahan-kemarahan ini hanya terjadi karena aku yang kurang mengkomunikasikan semuanya ke suami. Sedangkan suami tidak tau apa-apa, oleh karena itu suami menuntut aku tetap siaga untuknya juga. Padahal dengan kondisiku sekarang itu sulit untukku.
Aku coba mengalah, untuk semua yang terjadi. Aku harus menghubungi dulu suamiku. Aku chat dia dengan menanyakan kabarnya, dan ku katakan bahwa anak kita sedang membuka mata dan tidak tidur. Saat itu dia langsung telfon aku dengan vcall. Bahagianya aku, karena dia sudah mau melihatku lagi. Dan setelah itu semuanya kembali cair lagi. Ku katakan dan aku ceritakan panjang lebar kepadanya, bahwa sedari kemarin anak kita sakit dan aku ikut down secara fisik dan mental. Dan mulai hari itu, suamiku tidak menuntutku lagi untuk siaga menerima telfonnya. Bahkan dia sering menyuruhku tidur siang dan banyak tidur saat dia mulai melihat kantung mataku menebal. Aku sangat bahagia sekali dengan kondisi sekarang. Dimana aku sudah mendapatkan kembali support systemku secara utuh.
Terima kasih suamiku, meski aku dan adek sedang dipisahkan jarak darimu tapi kita akan selalu support kamu dari sini. Semoga Tuhan selalu melimpahkan untukmu kesehatan, keselamatan, dan kesuksesan mencari nafkah untuk kita semua. Love you, from far away 💕
No comments:
Post a Comment