Hai, hai guys.. aku ingin share tentang target perubahan diri terbaru aku kali ini :D Walaupun hanya sekedar target dan belum tau bakal tercapai atau tidak, yaah setidaknya aku punya tujuan yang pasti untuk satu langkah ke depan. Oke, dimulai dari sedikit cerita tentang lingkungan keluargaku. Bapak ku adalah seorang yang taat ibadah. Pendidikan agama bahkan selalu di nomor satukan oleh beliau. Dari kecil aku selalu diajarkan dan dituntut untuk taat beribadah. Dan ibuku hanya seorang guru olahraga, tapi ibuku juga gak kalah taat sama bapakku. Setiap ada adzan berkumandang beliau langsung menghentikan kegiatan yang sedang dilakukan dan segera mngambil air wudlu.
Dan dikehidupan yang sekarang, mungkin hanya aku satu-satunya anak dari orang tuaku yang belum bisa menyempurnakan diri. Kenapa aku sebut belum menyempurnakan diri? Yap itu karena seluruh perempuan di keluarga ku sudah memakai jilbab kemana pun perginya.
Aku punya tiga saudara perempuan. Kakak ku yang pertama sudah menikah, dan dia sudah lama memakai jilbab. Keluar rumah, beli makan, atau sekedar jalan-jalan memutari desa kakak ku selalu memakai jilbab. Nah, untuk kakak yang kedua, karena dia orangnya agak tomboi jadi dia mulai memakai jilbab semenjak dia menikah. Kakak ku yang kedua ini juga sama, selalu memakai jilbab saat keluar dari rumah. Dan yang terakhir adikku yang sekarang baru kelas VII MTs. Yaah, dulu sih adikku gak pake jilbab, karena dia juga sekolahnya di SD. Tapi semenjak dia masuk sebuah pondok pesantren, ketika dia liburan dan pulang ke rumah dia selalau memakai jilbab ketika keluar rumah.
Nah, sekarang tinggal aku. Oke aku sudah memakai jilbab semenjak aku masuk SMA. Dan aku merelakan menghentikan olahraga kesukaan ku karena ku ingin menghargai jilbab yang sudah aku pakai. Awalnya sih aku memakai jilbab karena ada paksaan dari bapakku. Sebenarnya waktu SMA aku belum siap memakai jilbab, karena aku suka olahraga basket dan saat itu aku berfikir ketika aku memakai jilbab bagaimana nanti kalau aku main basket?
Dulu aku diberi pilihan sulit oleh bapakku. Beliau bilang, “kamu pilih sekolah pake jilbab atau kamu gak jadi daftar sekolah aja.” Yaah, benar-benar pilihan yang sulit. Tapi aku harus memilih salah satu. And yap aku pilih pake jilbab. Seperti orang yang baru pake jilbab, aku hanya memakai jilbab ketika di sekolah saja. Dan karena rasa suka ku terhadap basket gak bisa dibendung, maka aku putuskan untuk ikut basket. Jadi ketika latihan basket aku gak pake jilbab. Tapi hal itu gak bertahan lama. Aku mulai mengambil keputusan yang tegas nan sakit, keputusan itu adalah aku akan meninggalkan basket karena aku ingin sekali memakai jilbab ini dengan baik dan benar.
Yaah, sakit bener-bener sakit, tapi aku harus memilih salah satu dan harus berani menghadapi resiko yang ada. Pikiranku saat mengambil keputusan ini adalah aku merasa tidak enak hati dengan jilbab yang telah aku pakai. Jadi aku memilih untuk meninggalkan kesenanganku. Dan itu terjadi di pertengahan kelas dua SMA.
Oke, bagiku itu adalah sebuah kemajuan besar bagiku. Tapi di sisi lain aku merasa itu bukanlah kemajuan yang sempurna. Sekarang di semester 4 bangku perkuliahan ini, aku mulai merasa untuk menyempurnakan kemajuan besar yang telah aku lakukan. Oke aku jujur kepada kalian semua, selama aku di kota tempat aku merantau menuntut ilmu, ketika aku keluar dari kos tempat aku bernaung aku memang memakai jilbab. Tapi yang belum aku lakuin adalah memakai jilbab ketika keluar dari rumahku sendiri. Seperti tadi aku bilang, kakak-kakak dan adikku selalu memakai jilbab ketika keluar rumah walaupun hanya sekedar jalan-jalan atau beli makan. Tapi aku belum bisa melakukan seperti itu. Aku hanya memakai jilbab ketika aku pergi ke kota saja, tapi tidak untuk lingkungan di desaku. Yaah itu karena aku menganggap lingkungan di desaku sudah tau bagaimana diriku, jadi dipikiranku itu “untuk apa memakai jilbab jika orang-orang sudah tau aku dari dulu”.
Tapi sekarang aku sadar, pikiranku itu salah besar. Dan aku harus bisa merubah pemikiranku itu. Andai kalian tau, aku sedang dalam proses persiapan diri dan batin untuk memakai jilbab di lingkungan desaku. Oh my God, rasanya itu tercampur aduk. Perasaan semangat untuk melakukanya sangat besar, tapi perasaan takut untuk melakukannya juga tak kalah besarnya.
Dan kini aku punya target untuk diriku sendiri. Mengingat sekarang hampir mendekati bulan suci umat islam, targetku yaitu bisa mengenakan jilbab seutuhnya ketika bulan suci ini berlalu. Sebenarnya persiapan batin untuk melakukan ini sudah aku siapkan berbulan-bulan yang lalu. Jauh sebelum mendekati bulan suci ini, aku selalu memikirkan dan selalu mencoba memantapkan diri untuk melakukan ini. Dan didukung dengan keadaan lingkungan keluargaku yang secara tidak langsung mendorong aku untuk memakai jilbab seutuhnya. Yap, selalu muncul pemikiran, “Ibu, kakak, dan adikku selalu berjilbab ketika keluar rumah. Kenapa aku gak? Kapan aku akan melakukan seperti apa yang mereka lakukan?”, pemikiran itu selalu muncul.
Selain itu aku selalu teringat akan ucapan salah satu temanku.
“Jika kamu selalu berfikir untuk menata hati dulu baru memakai jilbab maka hasilnya kamu GAK AKAN PERNAH memakai jilbab seumur hidupmu. Tapi ketika kamu sudah mengambil keputusan untuk memakai jilbab dan saat itu juga kamu langsung mengenakannya, maka jilbab itulah yang secara tidak langsung akan menata hatimu.”
Kalau ingat kalimat itu, serasa suntikan semangat begitu besar untuk mengenakan jilbab seutuhnya. Aku hanya berharap untuk mencapai target yang sudah aku buat aku diberikan kekuatan menghadapi hasutan-hasutan para evil. Aku beranjak dari niat yang baik, dan semoga untuk jalan seterusnya juga akan selalu baik.
Aku punya tiga saudara perempuan. Kakak ku yang pertama sudah menikah, dan dia sudah lama memakai jilbab. Keluar rumah, beli makan, atau sekedar jalan-jalan memutari desa kakak ku selalu memakai jilbab. Nah, untuk kakak yang kedua, karena dia orangnya agak tomboi jadi dia mulai memakai jilbab semenjak dia menikah. Kakak ku yang kedua ini juga sama, selalu memakai jilbab saat keluar dari rumah. Dan yang terakhir adikku yang sekarang baru kelas VII MTs. Yaah, dulu sih adikku gak pake jilbab, karena dia juga sekolahnya di SD. Tapi semenjak dia masuk sebuah pondok pesantren, ketika dia liburan dan pulang ke rumah dia selalau memakai jilbab ketika keluar rumah.
Nah, sekarang tinggal aku. Oke aku sudah memakai jilbab semenjak aku masuk SMA. Dan aku merelakan menghentikan olahraga kesukaan ku karena ku ingin menghargai jilbab yang sudah aku pakai. Awalnya sih aku memakai jilbab karena ada paksaan dari bapakku. Sebenarnya waktu SMA aku belum siap memakai jilbab, karena aku suka olahraga basket dan saat itu aku berfikir ketika aku memakai jilbab bagaimana nanti kalau aku main basket?
Dulu aku diberi pilihan sulit oleh bapakku. Beliau bilang, “kamu pilih sekolah pake jilbab atau kamu gak jadi daftar sekolah aja.” Yaah, benar-benar pilihan yang sulit. Tapi aku harus memilih salah satu. And yap aku pilih pake jilbab. Seperti orang yang baru pake jilbab, aku hanya memakai jilbab ketika di sekolah saja. Dan karena rasa suka ku terhadap basket gak bisa dibendung, maka aku putuskan untuk ikut basket. Jadi ketika latihan basket aku gak pake jilbab. Tapi hal itu gak bertahan lama. Aku mulai mengambil keputusan yang tegas nan sakit, keputusan itu adalah aku akan meninggalkan basket karena aku ingin sekali memakai jilbab ini dengan baik dan benar.
Yaah, sakit bener-bener sakit, tapi aku harus memilih salah satu dan harus berani menghadapi resiko yang ada. Pikiranku saat mengambil keputusan ini adalah aku merasa tidak enak hati dengan jilbab yang telah aku pakai. Jadi aku memilih untuk meninggalkan kesenanganku. Dan itu terjadi di pertengahan kelas dua SMA.
Oke, bagiku itu adalah sebuah kemajuan besar bagiku. Tapi di sisi lain aku merasa itu bukanlah kemajuan yang sempurna. Sekarang di semester 4 bangku perkuliahan ini, aku mulai merasa untuk menyempurnakan kemajuan besar yang telah aku lakukan. Oke aku jujur kepada kalian semua, selama aku di kota tempat aku merantau menuntut ilmu, ketika aku keluar dari kos tempat aku bernaung aku memang memakai jilbab. Tapi yang belum aku lakuin adalah memakai jilbab ketika keluar dari rumahku sendiri. Seperti tadi aku bilang, kakak-kakak dan adikku selalu memakai jilbab ketika keluar rumah walaupun hanya sekedar jalan-jalan atau beli makan. Tapi aku belum bisa melakukan seperti itu. Aku hanya memakai jilbab ketika aku pergi ke kota saja, tapi tidak untuk lingkungan di desaku. Yaah itu karena aku menganggap lingkungan di desaku sudah tau bagaimana diriku, jadi dipikiranku itu “untuk apa memakai jilbab jika orang-orang sudah tau aku dari dulu”.
Tapi sekarang aku sadar, pikiranku itu salah besar. Dan aku harus bisa merubah pemikiranku itu. Andai kalian tau, aku sedang dalam proses persiapan diri dan batin untuk memakai jilbab di lingkungan desaku. Oh my God, rasanya itu tercampur aduk. Perasaan semangat untuk melakukanya sangat besar, tapi perasaan takut untuk melakukannya juga tak kalah besarnya.
Dan kini aku punya target untuk diriku sendiri. Mengingat sekarang hampir mendekati bulan suci umat islam, targetku yaitu bisa mengenakan jilbab seutuhnya ketika bulan suci ini berlalu. Sebenarnya persiapan batin untuk melakukan ini sudah aku siapkan berbulan-bulan yang lalu. Jauh sebelum mendekati bulan suci ini, aku selalu memikirkan dan selalu mencoba memantapkan diri untuk melakukan ini. Dan didukung dengan keadaan lingkungan keluargaku yang secara tidak langsung mendorong aku untuk memakai jilbab seutuhnya. Yap, selalu muncul pemikiran, “Ibu, kakak, dan adikku selalu berjilbab ketika keluar rumah. Kenapa aku gak? Kapan aku akan melakukan seperti apa yang mereka lakukan?”, pemikiran itu selalu muncul.
Selain itu aku selalu teringat akan ucapan salah satu temanku.
“Jika kamu selalu berfikir untuk menata hati dulu baru memakai jilbab maka hasilnya kamu GAK AKAN PERNAH memakai jilbab seumur hidupmu. Tapi ketika kamu sudah mengambil keputusan untuk memakai jilbab dan saat itu juga kamu langsung mengenakannya, maka jilbab itulah yang secara tidak langsung akan menata hatimu.”
Kalau ingat kalimat itu, serasa suntikan semangat begitu besar untuk mengenakan jilbab seutuhnya. Aku hanya berharap untuk mencapai target yang sudah aku buat aku diberikan kekuatan menghadapi hasutan-hasutan para evil. Aku beranjak dari niat yang baik, dan semoga untuk jalan seterusnya juga akan selalu baik.
No comments:
Post a Comment