Aku gak tau mesti menulis dari mana dulu. Yang aku rasakan hanya rindu yang teramat sangat. Lalu untuk siapa rindu ini?
Berawal dari perencanaan untuk merubah diri menjadi lebih pemberani dan menghilangkan rasa malu, langkah terbesar pun aku ambil. Aku harus memberanikan mengikuti sebuah organisasi. Semuanya berjalan dengan aman dan lancar dari awal mengikuti organisasi ini. Di semester empat ini, aku merasakan kekosongan hati dan hal itu menyenangkan. Aku menerima semua teman baru dan melakukan hal-hal gila dengan teman-temanku. Aku nyaman sekali akan hal ini. Merasakan kekosongan hati (tanpa merasa menyukai orang) yang benar-benar kosong.
Sejak semester ini berlangsung, aku selalu merasakan kebahagian dengan teman-teman. Tanpa merasa sedih atau bahasa gaholnya galau. Seakan aku menikmati kehidupan yang sesungguhnya. Maklum saja, sudah sekitar empat tahun aku menyukai orang tanpa berpaling hati sekali pun walaupun di saat itu rasa suka ku hanya bertepuk sebelah tangan. Dan setelah sekitar empat tahun ini, akhirnya aku berhasil move on di semester empat ini, dan rasa kosong itulah yang aku dapat.
Tapi rasa kosong itu mulai berkecambuk ketika semester ini akan berakhir. Sesuatu mulai muncul dari hati kecil ini. Sesuatu yang mampu membuat aku tersenyum sendiri layaknya orang gila. Ini akibat dari kegiatan-kegiatan baru ku di organisasi. Dan seperti biasa, aku seorang cewek normal yang tidak bisa menahan gejolak hati yang mulai berdentum ini. Aku meminta pertimbangan teman-temanku. Dan mereka bilang, “kamu harus usaha jangan sampai terulang lagi kisahmu yang dulu”.
Kalian tau kisah apa itu? Biar aku ceritakan singkatnya …
Orang yang aku suka selama 4 tahun itu, adalah teman SMA ku. Ya, memang ini semua salah ku. Karena aku hanya bertindak layaknya Secret Admirer tapi tanpa usaha. Itu kesalahan terbesar aku. Aku hanya berani memandang dari jauh. Dan sampai sekarang aku belum bicara secara langsung dengan dia. Ada keinginan untuk merubah segalanya dengan mulai mengajaknya berinteraksi melalui sosial media. Tapi perasaan ku mengatakan hal itu mmbuatnya tidak nyaman. Dan karena perasaanku sering benar adanya, maka aku putuskan untuk tidak melakukan interaksi dengan dia lagi, sebelum dia merasa siap untuk berinteraksi.
Yaah, singkatnya seperti tu …
Dan sekarang aku merasa menyukai orang lagi. Di usiaku yang sudah menginjak 20 tahun ini, kalau di ingat-ingat aku baru dua kali ini merasa suka dengan cowok dengan perasaan yang sungguh-sungguh. Yang pertama adalah teman SMA ku dan yang kedua adalah teman organisasi ini. Mereka bilang aku orang yang susah buat jatuh cinta. Yaa, mungkin benar begitu …
Oke, kembali ke permasalah gejolak hati yang tak menentu ini. Aku sudah mulai berani menunjukkan rasa suka ku kali ini. Ini karena adanya saran, bantuan, dan dukungan dari teman-temanku. Kalau tidak aku tidak tau apa yang mesti aku lakukan. Mereka bilang aku harus melakukan ini, melakukan itu untuk menunjukkan rasa suka ini. Dan aku melakukannya, efeknya aku merasa senang dan lega karena aku sudah mampu mengekspresikan hal kecil nan indah di dalam hati ini.
Aku suka sama dia dan aku akui itu, aku pernah meneriakkan hal itu di balkon hotel, tempat aku dulu menginap. Dan aku ingin sekali mengatakan hal itu. Aku ingin mengatakan semua yang aku suka dari dia kepadanya. Aku suka cara bicaranya kepada setiap orang, aku suka cara dia menghadapi masalah, aku suka cara dia menghargai seseorang, aku suka cara dia berinteraksi dengan orang. Dan yang paling aku suka dari dia adalah dia mampu mengalahkan pandangan mataku. Dia selalu mengalahkan pandangan mata ini. Dan jujur saja, selama hidup ini baru dia laki-laki yang bisa mengimbangi bahkan mengalahkan pandangan mata ini. I really love it …
Tapi permasalahan baru mulai muncul lagi, ditengah-tengah usahaku untuk mengekspresikan dan menunjukkan rasa suka ini, munculah perasaan ragu-ragu di pikiran ini. Keraguan ku bukan karena seseorang yang aku suka. Tapi aku ragu dengan diri sendiri, apakah aku pantas mencintai dan mendapatkan dia? Aku merasa sedang berjalan di tengah-tengah padang rumput, dan di tengah perjalanan ku ini, aku temukan dua persimpangan jalan. Satu jalan akan membawaku pulang berarti aku harus mundur dan satu jalan lagi akan membawa ku ke tempat tujuanku itu.
Tapi apa yang mesti aku lakukan, ketika kebingungan seperti ini melanda. Aku tak tau, keraguan terhadap diri ini muncul hampir menghancurkan pondasi-pondasi keindahan ini. Aku butuh masukan dari orang-orang tentang apa yang mesti aku lakukan. Saat aku tanya temanku tentang ini, salah satu temanku bilang, “sebenarnya bukan ragu yang muncul dalam dirimu itu, sebenarnya yang muncul adalah ketakukan akan mencintai seseorang. Kamu masih takut atas hal yang sudah pernah terjadi kepadamu.”
Sebuah kalimat yang membuatku benar-benar merasa ditampar untuk segera sadar. Temanku benar, aku terlalu takut. Menghilangkan rasa akan takut ketinggian menurutku mudah karena sudah aku lakukan. Tapi menghilangkan rasa takut akan hal ini bagaimana? Aku tidak tau, aku benar-benar tidak tau apa yang mesti aku lakukan. Tapi, kata teman ku itu adalah hal yang wajar muncul kepadaku, dan jika aku merasakan kebingungan yang sangat itu juga wajar karena aku belum pernah menjalin sebuah relationship dan menghadapi persoalan seperti ini.
Apa yang mesti aku lakukan? Aaaaaaaaa tolong sayaaaaaaaaaa ….. :(
Kini sudah beberapa minggu aku tidak bertemu dengan dia. Dan temanku bilang, biasanya semakin lama tidak ketemu, nanti kamu akan semakin lupa. Tapi apa yang kurasakan malahan sebaliknya. Semakin lama aku tidak bertemu aku malahan merasakan kerinduan yang semakin akut. Aku merasa hati ini merasakan sakit dan terus memikirkan dia. Lalu apa yang mesti aku lakukan? Aku bukan siapa-siapa. Aku tidak mungkin mengajaknya bertemu, makan, bahkan jalan-jalan.
Yaa aku tidak bisa melakukan semua itu, yang aku bisa hanya mengirimkannya doa ketika aku merasa benar-benar rindu. Hanya doa yang bisa aku kirimkan untuk dia ketika rindu ini tidak bisa aku tahan lagi. Dan aku berharap dia bisa merasakan doa-doa ku.
Aku suka sama dia dan aku akui itu, aku pernah meneriakkan hal itu di balkon hotel, tempat aku dulu menginap. Dan aku ingin sekali mengatakan hal itu. Aku ingin mengatakan semua yang aku suka dari dia kepadanya. Aku suka cara bicaranya kepada setiap orang, aku suka cara dia menghadapi masalah, aku suka cara dia menghargai seseorang, aku suka cara dia berinteraksi dengan orang. Dan yang paling aku suka dari dia adalah dia mampu mengalahkan pandangan mataku. Dia selalu mengalahkan pandangan mata ini. Dan jujur saja, selama hidup ini baru dia laki-laki yang bisa mengimbangi bahkan mengalahkan pandangan mata ini. I really love it …
Tapi permasalahan baru mulai muncul lagi, ditengah-tengah usahaku untuk mengekspresikan dan menunjukkan rasa suka ini, munculah perasaan ragu-ragu di pikiran ini. Keraguan ku bukan karena seseorang yang aku suka. Tapi aku ragu dengan diri sendiri, apakah aku pantas mencintai dan mendapatkan dia? Aku merasa sedang berjalan di tengah-tengah padang rumput, dan di tengah perjalanan ku ini, aku temukan dua persimpangan jalan. Satu jalan akan membawaku pulang berarti aku harus mundur dan satu jalan lagi akan membawa ku ke tempat tujuanku itu.
Tapi apa yang mesti aku lakukan, ketika kebingungan seperti ini melanda. Aku tak tau, keraguan terhadap diri ini muncul hampir menghancurkan pondasi-pondasi keindahan ini. Aku butuh masukan dari orang-orang tentang apa yang mesti aku lakukan. Saat aku tanya temanku tentang ini, salah satu temanku bilang, “sebenarnya bukan ragu yang muncul dalam dirimu itu, sebenarnya yang muncul adalah ketakukan akan mencintai seseorang. Kamu masih takut atas hal yang sudah pernah terjadi kepadamu.”
Sebuah kalimat yang membuatku benar-benar merasa ditampar untuk segera sadar. Temanku benar, aku terlalu takut. Menghilangkan rasa akan takut ketinggian menurutku mudah karena sudah aku lakukan. Tapi menghilangkan rasa takut akan hal ini bagaimana? Aku tidak tau, aku benar-benar tidak tau apa yang mesti aku lakukan. Tapi, kata teman ku itu adalah hal yang wajar muncul kepadaku, dan jika aku merasakan kebingungan yang sangat itu juga wajar karena aku belum pernah menjalin sebuah relationship dan menghadapi persoalan seperti ini.
Apa yang mesti aku lakukan? Aaaaaaaaa tolong sayaaaaaaaaaa ….. :(
Kini sudah beberapa minggu aku tidak bertemu dengan dia. Dan temanku bilang, biasanya semakin lama tidak ketemu, nanti kamu akan semakin lupa. Tapi apa yang kurasakan malahan sebaliknya. Semakin lama aku tidak bertemu aku malahan merasakan kerinduan yang semakin akut. Aku merasa hati ini merasakan sakit dan terus memikirkan dia. Lalu apa yang mesti aku lakukan? Aku bukan siapa-siapa. Aku tidak mungkin mengajaknya bertemu, makan, bahkan jalan-jalan.
Yaa aku tidak bisa melakukan semua itu, yang aku bisa hanya mengirimkannya doa ketika aku merasa benar-benar rindu. Hanya doa yang bisa aku kirimkan untuk dia ketika rindu ini tidak bisa aku tahan lagi. Dan aku berharap dia bisa merasakan doa-doa ku.

No comments:
Post a Comment