Unfair or What?? - Tagebuch Gestalten

Friday, October 12, 2012

Unfair or What??

Bagaimana perasaanmu jika ketidakadilan mulai berjalan??

Anggap saja aku anak kedua dari tiga bersaudara. Kakakmu kuliah saat kamu bersekolah SD dan/atau SMP. Kemudian suatu hari kamu merasakan orang tuamu mulai mengurangi perhatiannya, memusatkan perhatiannya ke kakakmu itu. Maklum kakak mu kuliah di tempat yang jauh, anak kostan, segalanya serba terbatas saat di lingkungan perkuliahan.

Setiap kakakmu pulang ke rumah, orang tua selalu memberikan yang spesial kepada kakakmu. Dari yang sehari-hari hanya makan nasi dengan lauk yang seadanya, tapi ketika kakakmu pulang semuanya berubah. Ibumu selalu memasakkan sesuatu yang spesial dan lebih dari hari biasanya. Dan setiap ada makanan enak misalnya kue atau sejenisnya yang dibeli atau didapat orang tuamu, ibumu selalu memberikan makanan itu ke kakakmu. Ibumu bilang "kasian kakakmu, selalu makan yang tidak enak ketika di kostan. Biar makanan ini untuk kakakmu saja." Apa lagi yang bisa kamu katakan selain "Iya", karena itu bisa masuk dalam logika dan juga perasaan.

Mencoba ikhlas dengan berfikir positif, "Suatu saat ketika aku kuliah seperti kakakku, aku juga akan diperlakukan spesial seperti itu." Entah aku berpikir berlebihan atau bagaimana, tapi saat itu aku masih SD, dan aku merasa belum waktunya aku berfikir seperti itu. Mungkin perasaanku saja yang berlebihan. Atau ...

Setelah beberapa tahun, sampailah kamu kuliah. Kamu memikirkan hal selama ini kamu bayangkan. "Aku pasti akan merasakan apa yang dirasakan kakakku."

Tapi bagaimana jika hal yang kamu bayangkan, 'Mendapatkan Perhatian' dari orang tuamu tidak sampai pada dirimu. Karena apa? Ada alasan logis dan alasan berperasaan lainnya lagi. Waktu kuliahmu berbarengan dengan sekolah adikmu MTS. Adikmu bukan hanya sekolah MTS biasa. Dia bersekolah dimana dia harus di asrama. Jelas sekali, orang tuamu lebih memperhatikan adikmu. karena adikmu lebih kecil, lebih butuh perhatian dan segalanya.

Bagaimana jika semua itu terjadi padamu?

Aku sempat iri dan cemburu jika harus mengingat itu. Yang ada dalam pikiranku, dulu aku iri dan cemburu dengan kakakku. Sekarang aku iri dan cemburu dengan adikku sendiri. Kakak macam apa aku ini. 
Pada awalnya yang kurasakan hanya perasaan benci terhadap adikku. Karena aku menganggap dia merebut sesuatu yang seharusnya aku dapatkan. Tapi ini semua bukan salah dia, mungkin ini semua sudah takdirnya aku seperti ini. Hingga aku benar-benar bisa lupa akan sesuatu yang aku inginkan itu. sekarang aku hanya ingin jadi kakak yang baik, dan berperan baik di keluargaku. Karena logisnya sekarang aku sudah kuliah, otomatis aku dewasa dan harus berfikir dewasa. Aku mencoba melakukan perubahan terhadap adikku sendiri. 
Intinya aku harus merasa ikhlas. Tapi masalahnya ikhlas mudah dikatakan tapi bukanlah suatu hal yang mudah untuk dilakukan. Butuh waktu dan proses lama untuk hal itu. Aku hanya bisa berdoa meminta kekuatan dan juga menangis di pojok kamar dengan kesendirianku, tanpa ada yang tau.
Mungkin aku cuma berlebihan saja menanggapi semua ini. Tapi aku punya pertanyaan :
Ketika kamu antri di loket tiket 'perhatian' milik orang tuamu, kamu mendahulukan kakakmu karena dia lebih membutuhkan saat itu. Setelah kamu menunggu beberapa tahun untuk mendapatkan tiket bagianmu, kamu harus menyerahkan tiketmu itu ke adikmu. Dan kamu tidak tau harus menunggu sampai kapan lagi untuk mendapat tiket itu. Karena logikanya sekarang kamu dewasa sebentar lagi akan menikah, hidup dengan orang lain, meninggalkan orang tuamu, punya kehidupan sendiri. Pertanyaannya, jika kakak mu mendapatkan tiket begitu juga dengan adikmu, lalu kapan kamu akan mendapatkan tiketmu juga?

Secara logis, 'tiket' itu tidak akan pernah aku dapatkan.

No comments:

Post a Comment