Sedang apa
kamu ?
Kamu lagi
dimana ??
Apa yang
sedang kamu pikirkan sekarang?
Taukah kamu
…?
Kalau
disini aku sedang memikirkanmu?
Apa kamu
pernah memikirkanku?
Walau tidak
sesering aku memikirkanmu?
Taukah
kamu…?
Jauh
dipikiranku, aku tidak ingin memikirkanmu …
Bahkan,
hanya sekedar mengingatmu pun aku tidak ingin…
Tapi,
taukah kamu …?
Jauh di
dalam hatiku, selalu ingin memikirkanmu …
Apa kau tau
bagaimana rasanya itu, ha???
Pernahkah
kamu merasakannya?
Pernahkah
kamu ingin merasakan apa yang aku rasakan?
Apa kamu
pernah menangisi seseorang?
Terkadang
aku harus menahan air mata ketika mengingatmu, apa kamu tau itu?
Apa kamu
tau kalau di sini selalu ada yang memikirkanmu?
Apa kamu
pernah memikirkan seseorang tapi dia tidak pernah memikirkanmu?
Bagaimana
rasanya itu?
Pernahkah
kau membayangkan, kalau di sini ada yang melakukan hal itu terhadapmu?
Pernahkah
kamu menahan perasaanmu selama bertahun-tahun?
Apa yang
akan kamu lakukan dengan perasaanmu?
Apa kamu
akan membawa perasaanmu itu seumur hidup?
Atau kamu
akan mencoba membohongi dirimu sendiri dengan berusaha lupa dan mencintai orang
lain?
Apa kamu
bisa dan sanggup melakukan hal itu?
Jika iya,
maukah kamu mengajarkannya untukku?
Taukah kamu
…? Cerita dibalik pertanyaanku ??
Kertas
bekas. Ya … di situlah awal ku tulis semua pertanyaan-pertanyaan ini. Aku tidak
tau bagaimana hal itu berawal. Aku hanya duduk di sudut kamarku. Dengan kondisi
kamar yang berantakan. Aku ambil kertas bekas dan kutuliskan apa yang ada dalam
pikiranku.
Kertas bekas
yang tidak penting, seharusnya ku buang tempat sampah. Tapi mendadak kertas itu
berubah menjadi kertas yang sangat indah dan sangat aku ingin simpan. Karena di
kesendirianku itu, kutuliskan nama mu dengan begitu jelasnya dan kuhiasi gambar
setangkai bunga entah bunga apa itu aku sendiri tidak menentukan bunga apa yang
aku buat dan satu gambar hati yang aku maksudkan sebagai kupu yang terbang
diatasnya. Kutulis namamu dengan pen warna ungu dan pink warna kesukaanku,
begitu juga dengan bunga dan gambar hatinya dan kuimbuhkan warna hijau untuk
tangkai dan daun bunga. Dengan
sendirinya aku menggambar dan jadilah.
Pada
awalnya aku hanya menulis namamu saja. Tapi setelah namamu selesai kutulis,
muncullah pertanyaan-pertanyaan itu. Tanpa pikir panjang kutuliskan semua
pertanyaan itu. Satu per satu kutulis, dan saat itulah air mata mulai mengalir.
Saat itu benar-benar ingin aku ingin mengeluarkan semua pertanyaan dan
kesedihanku. Ku puaskan menangis sendiri di sudut kamarku, situasi sepi
membuatku semakin ingin membuatku menangis lepas. Semuanya ku keluarkan pada
saat itu juga.
Aku mulai
lelah benar-benar lelah, kurebahkan tubuhku dan sekejap mataku terpejam, aku
merasa semua yang menusuk pikiranku menghilang dan aku juga menghilang dari
ragaku untuk sesaat dan merasa tenang. Dan tidurku benar-benar me-refresh otakku.
Lia Faridda

No comments:
Post a Comment