Aku pikir tahun ketiga adalah kado terindah. But, I don't know where the beautiful part is. Ini malah menjadi seperti yang dulu, seperti kehilangan semangat lagi. Seperti harapan, entah dimana.
Gerlip cahaya yang begitu menyilaukan, tak bersinar selama yang aku bayangkan. Sekejap menyilaukan, sekejap menghilang. Kabar bahagia yang aku tunggu di tahun ketiga ini, juga sekejap menyamar.
"Hahaha", ingin ku tertawakan. Tapi tak bisa. Mata ini tak bisa membendung lagi untuk menyembunyikan gelisah yang ada. Senyum ini hanya kepura-puraan (andai kamu tau). Bahkan ku sembunyikan mata yang berair ini darimu (andai kamu tau).
Hanya untuk menjaga hati orang tuaku, untuk membuktikan bahwa anaknya sebegitu tegar. Tak ada luka sama sekali. Aku tak tau mereka tersakiti atau tidak, tp mereka tersenyum padaku dan menyemangatiku. Tapi hanya senyum palsu yang bisa aku berikan kepada mereka sekarang ini.
Entah kepada siapa lagi mesti bercerita. Karena memang tak tau lagi. Apa yang aku pikirkan sudah berbeda dengan keluargaku, kamu, dan keluargamu.
Jika ini semua hanya untuk menunggu, tapi bagaimana jika yang aku ingin tidak menunggu.
Aku hanya semakin membenci pernikahan. Aku tidak suka melihat dokumtasi pertunangan atau pernikahan berlalu-lalang di semua media sosial ku.
Aku hanya ingin kebebasanku dan hakku untuk bebas.
Ku lepas dan ku tumpahkan semua malam ini, dan aku harap Tuhan akan membangunkan ku dengan tujuan yang baru.
Selamat malam...

No comments:
Post a Comment