Jogja Istimewa. Memang jargon ini sudah gak asing lagi bagi kita. Aku rasa jargon ini memang sangat pas untuk daerah Jogja. Bagaimana tidak, sekalinya pergi kesana pas ingin dan ingin lagi pergi kesana. Kotanya yang terkesan autentik, kebudayaan yang begitu melekat, dan keramaian yang terbentuk begitu terasa hangat bagi para travellers.
![]() |
| Photo by http://www.jogjaspace.com/pantai-parangtritis/ (27/04/2018) |
Beberapa waktu lalu saya sempat berkunjung kesana. Begitu banyak tempat wisata sampai-sampai bingung membagi waktu untuk berseluncur ke semua tempat wisata. Jadi hanya ke beberapa tempat wisata saja, mengingkat waktu libur yang selalu terasa kurang apabila berkunjung ke Jogja.
Untuk ulasan kali ini, saya akan menceritakan tempat wisata yang ada di daerah pantai selatan. Yap, kemana lagi kalau bukan pantai Parangtritis. Deburan ombaknya sangat terasa dan suaranya terdengar hampir sampai ke jalan raya. Saat itu anginnya juga lumayan kencang, sehingga ombak-ombak ini juga begitu terasa lumayan besar.
Di pantai ini juga banyak pedagang yang menjajakan makanan-makanan khas laut dan minuman-minuman segar penghilang rasa panas terik matahari. Tidak sedikit pula yang pedagang yang menyewakan payung-payung tenda yang cukup besar untuk wisatawan-wisatawan yang ingin sekedar duduk beralas tikar untuk menikmati suasana pantai dan ombak. Ada juga spot selfie yang telah disediakan di sana. Jadi wisatawan bisa semakin nyaman untuk menikmati pantai ini.
Namun, disana menurut saya pantainya kurang memikat. Mungkin hanya karena pasir yang cenderung berwarna hitam jadi mungkin terlihat kurang menarik. Tapi sebenarnya itu bukan masalah yang mengganggu. Tapi banyaknya sampahlah yang menurut saya menjadi penyebab utama kenapa pantai ini kurang begitu menarik bagi saya saat itu.
Saya kesana cukup pagi, sekitar pukul 08.00 WIB. Terasa begitu panas saat itu, karena matahari muncul dengan begitu teriknya pada pagi itu. Sebelum memasuki area pantai, kami harus membayar tiket sebesar tujuh ribu per orang. Menurut saya itu sangat murah sekali. Karena dengan uang segitu kita pun bisa masuk wisata gumuk pasir juga.
Kembali ke pantai Parangtritis. Sewaktu itu pantai ini akan digunakan sebagai tempat untuk parade paralayang, seperti acara tahuanan yang diselenggarakan disana. Tapi sayangnya, waktu kunjung saya kurang tepat. Karena parade itu dilaksanakan esok harinya. Tapi saat itu kita masih bisa menikmati beberapa paralayang yang sedang melakukan uji coba. Yaa its okay lah ya ...
Berhubung disana begitu panas dan kurang memikat bagi kami, kami hanya berkeliling sebentar dan memutuskan untuk meninggalkan pantai ini dan menuju gumuk pasir. Dan untuk cerita gumuk pasir akan saya bahas di artikel selanjutnya ya. So, stay tune ...

No comments:
Post a Comment