Ketika kamu seorang ratu atau raja sejagad bertemu dengan seorang pemulung dan kamu mencintainya. Logika cepat mengahmpirimu dan mengatakan, “kamu tidak suka, kamu hanya kasihan. Apa benar seorang raja dan ratu sejagad sepertimu menyukai pemulung kumuh macam dia?”. Dengan lembut hati nurani dating dan menanyakan, “Apa kamu bahagia dengan dia?”.
Ketika kamu seorang berkulit putih mulus menyukai seseorang yang hitam pekat dengan kulit yang kasar. Dengan cepat logika mengatakan, “Apa? Kamu menyukainya? Kamu akan malu dengan itu? Kamu akan terlihat bodoh dengan dia.” Namun, hati kecil dengan singkat bertanya, “Apa kamu merasa nyaman dengan dia?”.
Ketika kamu adalah seorang yang paling baik di alam raya ini dan kamu menyukai seseorang yang paling jahat di galaksi ini. “Kamu orang baik, tidak akan pernah pantas dengan dia. Dia hanya akan menyakitimu. Kamu tidak akan pernah bahagia dengan dia.” cletus logika. Hati kecil dengan santai bertanya, “Dari segi apa kamu bias merasa nyaman dengan dia?”
Jika kamu seorang yang memiliki tubuh sempurna dan semua orang tergila-gila padamu, tapi kamu menyadari kamu sedang mencintai seseorang yang sama sekali tidak sempurna dalam fisik dan hampir setiap orang mengolok-olok. Logika akan menertawakanmu dengan keras, “Kamu adalah orang terbodoh yang pernah ada.” Hati kecil tersenyum dan bertanya, “Apa yang membuatmu merasa bahagia didekatnya?”
Hmmm, itulah akibatnya ketika logika selalu hampir dalam perasaan. Logika tidak akan pernah berhenti menimbang-nimbang baik buruk seseorang. Logika terkadang lebih condong untuk menjauhkan kita dari perasaan kita sendiri. Berjuta-juta pertanyaan yang muncul dari logika itu bukanlah suatu makna. Kau akan berjalan dengan ragu-ragu ketika harus mendengar logika. Logika akan membuat mu menjauh-menjauh dan selalu berusaha mencari seseorang yang sempurna. Tapi ketahuilah, tidak ada yang sempurna di dunia ini. Jika kamu menginginkan seseorang yang sempurna di dunia ini, maka kamu harus bersiap untuk hidup sendiri sampai akhir hayatmu.
Berbeda dengan perasaan, kau tidak perlu menimbang seberapa berat kesalahan, status, dan kodisi seseorang. Karena hal itu tidak akan ada habisnya. Dengan satu pertanyaan dalam hati, itu akan selalu membuatmu tersenyum tanpa alasan. Satu pertanyaan yang akan membuatmu puas untuk tetap melanjutkan apa yang hati nurani inginkan. Tidak aka nada keraguan yang mengiri dalam perjalanan perasaan mu itu. Yang ada hanya kepastian dan harapan. Harapan yang akan selalu membuatmu merasakan kehidupan yang sebenarnya.
Pada dasarnya jika kamu mencintai seseorang kamu tidak akan pernah membuka telinga dan menutup dengan kedua tangan mu rapat-rapat telingamu untuk tidak mendengarkan logika. Kau tidak akan memikirkannya apa yang telah kau dengar dari logika. Kau akan memaklumi dan menghargai kekurangan-kekurangan dari orang yang kamu cintai. Karena itulah cinta.
Mencintai, mengahargai, dan memaklumi kekurangan seseorang lebih dari kau menyukai kelebihan seseorang, itulah cinta. Karena dengan itu, kau akan selalu berusaha untuk mengisi kekurangan yang ada menjadi sesuatu yang indah dan tidak terlupakan. Dan jika kamu mampu mencintai kekurangan seseorang, dengan otomatis kamu akan menyukai semua kelebihan yang dia punya. It called love.
(VaW)

Kita dapat menilai ketulusan cinta seseorang dari apa mereka mencintai kita, dan siap menanggung semua akibatnya.. Nice post Mba Bro
ReplyDeleteSalam Go Blog dari Mahasiswa Go Blog
ditunggu followbacknya
sudah bro
Delete