Terlihat fakultasku sedang mengadakan acara, tapi acara apa aku kurang tau. Pandanganku saja kurang jelas dan sedikit ada efek abu-abu. Tapi anehnya aku datang dengan kedua temanku hanya memakai pakaian biasa. Pakaian tidak resmi, hanya memakai kaos dan celana panjang saja dengan tas yang ku gantungkan di bahu sebelah kanan. Temanku berjalan disampingku di sebelah kiri aku, dan lagi-lagi aku tidak melihat wajah kedua temanku dengan jelas.
Sepertinya aku datang telat dalam acara fakultas itu, karena terlihat sudah ada banyak orang yang duduk di barisan kursi yang lumayan panjang dan luas dan mereka menatap fokus ke depan. Tapi aku dan temanku berjalan santai sambil melihat kanan kiri jika ada kursi yang kosong untuk kita tempati.
Tapi tidak aku menyangka, aku melihat seseorang yang aku cintai dulu waktu SMA, dan tidak aku pungkiri mungkin aku masih ada perasaan sampai sekarang. Anggap saja namanya Riyan. Dia duduk dengan mahasiswa yang juga dari fakultas itu. mereka duduk menjauh dari acara, jadi tidak dalam acara seperti terlihat mereka tidak mengikuti acara tapi hanya nongkrong saja di luar. Riyan menatapku dari aku masuk lokasi hingga aku mendapatkan tempat duduk. Tapi karena aku sekarang posisinya sakit hati dengan perlakuan dia, aku buang jauh-jauh pandanganku ke dia. aku tidak mau menatap dia sedikitpun. Aku sama sekali tidak perduli dia di sana.
Aku dan teman-temanku mendapatkan tempat duduk yang jauh dari pusat pertunjukan. Paling pinggir dari acara itu diselenggarakan. Tepat dibelakangku ada sound sistem yang dipakai dalam acara itu, apalagi terkena panas matahari, benar-benar bukan tempat yang menyenangkan. Belum sempat aku melihat acara apa yang digelar, aku terkejut dengan Riyan yang berjalan melintas di depanku dan ingin duduk di tempat dekat dengan aku. Dia berjalan-jalan mencari tempat duduk, tapi karena dia bukan mahasiswa dari fakultas ini bahkan dia bukan mahasiswa dari universitas ini, dia diberi peringatan oleh security untuk tidak ikut dalam acara tersebut. Tapi dia memberontak dan tetap ingin ikut acara itu. Akhirnya security memperbolehkan dia tapi dia tidak boleh duduk di tempat duduk seperti mahasiswa dari fakultas asli situ.
Yang mengagetkan, dia tidak ingin duduk diantara mahasiswa itu, tapi dia ingin duduk bersama security itu tepat dibelakang sound sistem, secara otomatis dia duduk dibelakangku hanya terhalang sound sistem itu. Dia juga memindahkan kursinya agar bisa melihatku. Oh God..!! Benar-benar tidak nyaman. Aku benci sama dia, risih dengan dia tapi sepertinya dia berusaha mendekat, seolah-olah dia ingin mengatakan sesuatu yaitu meminta maaf.
Karena aku merasa tidak nyaman aku putuskan untuk pergi pulang saja. Aku meninggalkan teman-temanku dan pulang. Aku berjalan sendiri menuju tempatku, tapi anehnya itu bukan jalan yang biasanya aku lewati. Jalan itu masih dari tanah dan bebatuan, dan di sepanjang jalan dikelilingi tanmana tebu yang tinggi. Suasana begitu hening tidak ada orang.
Lagi-lagi aku jengkel karena Riyan mengikutiku, dia memanggilku tapi tetap saja aku tidak menghiraukan dia. Aku fokus terhadap jalan yang pada saat itu menurun dan sedikit curam. Tanpa menoleh kepadanya aku menuruni jalan itu. Betapa terkejutnya aku, ketika Riyan berusaha mendahuluiku dengan berlari, tapi karena kondisi jalan yang menurun dan sedikit curam, dia tidak bisa mengendalikan tubuhnya dan terpeleset hingga terperosok kedalam kolong kendaraan beroda empat yang sedang parkir di turunan jalan itu. Dan yang membuat ku khawatir lagi setelah Riyan terperosok kedalam kolong kendaran itu, kendaraan itu menyala dan pergi meninggalkan tempat parkiran. Hal negatif ada dipikiranku. Pikirku Riyan meninggal karena terlindas kendaraan itu.
Aku khawatir dan berlari menuju tempat Riyan terjatuh, dari kejauhan aku melihat dia memjamkan matanya. Aku menghampirinya dengan perasaan panik, karena waktu itu juga tidak ada orang di sekitar tempat itu. Leganya aku ketika dia membuka mata, dan dengan kondisi baik dia bangun dan duduk. Kutanyakan "Apa kau baik-baik saja? Apa ada yang terluka?" dengan nada yang panik. tapi dia malah berkata "Akhirnya kamu mau ngomong sama aku."
Aku hanya bisa menghela nafas, dan mau tidak mau aku harus mengakui kalau aku mencemaskannya. Kami berdiri meninggalkan tempat itu, sambil berjalan aku mengusapkan tangan ku ke muka Riyan karena mukanya kotor terkena tanah, sambil menanyakan kondisinya. Riyan merasa baik, hanya kakinya yang terpeleset sedikit lecet. Saat ku usap mukanya, dia melihatku sambil tersenyum dan mengatakan "Apa kamu memaafkan ku? Kalau tidak begini, kamu belum mau ngomong denganku bukan?
Belum sempat aku menjawab, aku sudah terbangun dari mimpiku. Ya semuanya itu hanya mimpi. Aku hanya menyesalkan kenapa aku mesti memimpikan tentang Riyan. Sudah hampir satu tahun aku tidak pernah bertemu dengannya, aku juga sudah melupakannya. Aku rasa aku juga sudah tidak begitu mengharapkannya, tapi dia datang dalam mimpiku, seakan-akan meminta maaf akan segalanya.
Mungkin kalian mesti tau kenapa aku sangat marah padanya dalam mimpi itu. Aku teman SMAnya, memang ada sedikit masalah hati yang benar-benar complicated. Aku sendiri juga kurang tahu masalah sebenarnya itu apa. Aku hanya ingin memperbaiki pertemanan. Di mana aku mengenal dia dan dia mengenalku. Mencoba memperbaiki apa yang sebenarnya terjadi, aku putuskan untuk menambahkannya sebagai teman dalam pertemanan jejaring sosial. Tapi apa yang kudapat sampai sekarang (6 bulan) belum juga mendapatkan konfirmasi darinya. Siapa yang tidak sakit hati diperlakukan seperti itu? Sudah aku buang jauh harga diriku, tapi sama sekali dia tidak menghargai aku.
Yaa..sebenarnya untuk saat ini hal itu sudah tidak jadi masalah yang besar bagiku. Aku tidak peduli dia memberikan konfirmasi atau bukan. Tapi masalahnya dia masih hadir dalam mimpiku. Dia sudah tidak hadir dalam hariku, tapi dia selalu datang dalam mimpiku. Itu yang menggangguku dan membuatku tambah muak dengan dia.
Bukankah dalam mimpi itu aku bertemu dengan dia dan berbaikan, jika memang arti sebuah mimpi itu berkebalikan berarti aku tidak akan bertemu dengannya berbicara dengannya bukan? Jika itu benar aku ingin semuanya cepat terjadi walaupun hanya dalam mimpi.

No comments:
Post a Comment